Langsung ke konten utama

Materi 1 : Pengenalan tentang Kedokteran Nuklir

Kedokteran Nuklir

Kedokteran Nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka berasal dari inti radionuklida buatan untuk mempelajari perubahan fisiologik dan biokimia sehingga dapat digunakan untuk tujuan diagnostik, terapi, dan penelitian.

Pada kegiatan kedokteran nuklir untuk keperluan diagnostik, radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien secara inhalasi melalui jalan pernafasan, atau melalui mulut, ataupun melalui injeksi. Di samping itu dapat pula radioisotop hanya direaksikan dengan bahan biologik (darah, urine) yang diambil dari tubuh pasien.

Radiofarmaka yang telah dimasukkan ke dalam tubuh akan menyebar ke seluruh tubuh dan akan terkonsentrasi di area penyakit. Maka selanjutnya radioisotop di dalam tubuh dapat diperiksa dengan :

1) Membuat citra (gambar) organ dengan kamera gamma atau kamera positron (PET/SPECT).

2) Menghitung aktivitas yang terdapat pada organ atau bagian tubuh yang mengakumulasikan radiosiotop dengan menempatkan detektor radiasi gamma di atas organ atau bagian tubuh yang diperiksa.

Radiasi yang dipancarkan oleh radioisotop itulah yang membuat radiofarmaka dapat dideteksi dan diketahui lokasinya, sedang senyawa pembawa menentukan tempat akumulasi radiofarmaka tersebut. Untuk keperluan diagnostik, radiofarmaka yang ideal adalah yang radiasinya mudah dideteksi dengan kualitas citra yang baik dan aman dari segi proteksi radiasi, memiliki waktu paro yang pendek.

PET ->instrumen pencitraan yang menggunakan radiofarmasi untuk membuat gambar 3D. Perbedaan utama antara pemindaian SPECT dan PET adalah jenis pelacak radio yang digunakan. SPECT mengukur sinar gamma, peluruhan radiotracer yang digunakan dengan pemindaian PET menghasilkan partikel kecil yang disebut positron. Positron adalah partikel dengan massa yang kira-kira sama dengan elektron tetapi bermuatan berlawanan. Positron bereaksi dengan elektron dalam tubuh dan ketika kedua partikel ini bergabung, mereka saling memusnahkan. Pemusnahan ini menghasilkan sejumlah kecil energi dalam bentuk dua foton yang melesat ke arah yang berlawanan. Detektor dalam pemindai PET mengukur foton ini dan menggunakan informasi ini untuk membuat gambar organ dalam

SPECT -> instrumen pencitraan yang memberikan  gambar 3D (tomografi) dari distribusi molekul pelacak radioaktif yang telah dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Gambar 3D adalah komputer yang dihasilkan dari sejumlah besar gambar proyeksi tubuh yang direkam pada sudut yang berbeda. SPECT memiliki detektor kamera gamma yang dapat mendeteksi emisi sinar gamma dari pelacak yang telah disuntikkan ke pasien. Kamera dipasang pada gantry berputar yang memungkinkan detektor dipindahkan dalam lingkaran ketat di sekitar pasien yang terbaring tak bergerak di atas palet (tempat tidur untuk pasien).


Untuk keperluan terapi, radioisotop sengaja diberikan dalam dosis besar. Radioisotop dengan pemancar radiasi partikel berenergi cukup besar dipilih dengan tujuan melenyapkan atau menghancurkan sel-sel ganas (kanker). 

Hampir semua cabang ilmu kedokteran dapat memanfaatkan peranan kedokteran nuklir. Aplikasi kedokteran nuklir : neurologi, kardiologi, onkologi, dan ortopedik.


Proses produksi radiofarmaka :

1) Produk radioaktif yang berasal dari reaktor ataupun siklotron.

2) Radioaktif diproses di radiofarmasi dengan mentransformasikan radioaktif tersebut menjadi radiofarmaka.

3) Radiofarmaka kemudian dikirim ke Rumah Sakit untuk digunakan.



Sumber :

Presiding Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan, 20 - 21 Agustus 1996.

https://www.nibib.nih.gov/science-education/science-topics/nuclear-medicine 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 3 : Penggunaan Radiasi pada Makhluk Hidup (Radiobiologi)

Radiobiology Dasar Radiobiologi adalah studi kualitatif dan kuantitatif dari efek radiasi pengion pada makhluk hidup. Radiasi dapat memberikan efek berupa kerusakan sel dimana sel menjadi ganas atau secara langsung menginduksi kematian sel. Pada level mikroskopis, sinar atau partikel yang datang akan berinteraksi dengan electron orbital dalam atom atau molekul seluler sehingga menyebabkan : - Eksitasi : kenaikan electron terikat naik ke level energy yang lebih tinggi, electron tidak memiliki energy yang cukup untuk meninggalkan atom induknya. - Ionisasi : electron menerima energi yang cukup untuk dikeluarkan dari orbitnya dan meninggalkan atom induknya.  Radiasi pengion mampu menginduksi proses ejeksi electron -> irradiasi bahan seluler menimbulkan produksi fluks partikel sekunder energik (elektron) -> energik dan tidak terikat, mereka mampu berpindah jauh dari tempat produksi, berinteraksi dengan atom dan molekul lain, dan melepaskan energi ke medium sekitarnya Susun...

Materi 5 : Fisika dalam Radiofarmasi II

4. Keamanan Radiasi di Radiofarmasi a) Batas Kontaminasi Permukaan Batas kontaminasi permukaan yang diberikan berdasarkan batas dosis efektif yaitu 20 mSv/tahun yang diberikan dalam publikasi ICRP. Kontaminasi dapat dibagi menjadi dua yaitu ; - kontaminasi eksternal : dapat menyebabkan kontaminasi pada pekerja radiasi dan iradiasi pada kulit pekerja radiasi - kontaminasi internal : dapat timbul dari inhalasi (menghirup) radionuklida dan menelan radionuklida. b) Tes Wipe dan Survei Area Tes wipe diperlukan minimal 100 cm 2 area yang harus dibersihkan. Aktivitasnya dapat dinilai menggunakan well counter ataupun probe pancake . Untuk pemancar beta rendah maka perhitungannya menggunakan liquid scintillation .  Saat mengukur kontaminasi permukaan, diasumsikan bahwa tes wipe menggunakan lap kering untuk menghilangkan 1/10 kontaminasi, sedangkan lap basah akan menghilangkan 1/5 dari kontaminasi. Survey area radiofarmasi diperlukan untuk memastikan bahwa batas kontaminasi t...